Pesantren KMI di Sumatera Selatan

PENGAJIAN BA’DA JUM’AT : Kajian Tafsir Al-Maraghi

0 14

Oleh :

Ustadz Masykur

(وَعَلَّمَ آدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلَائِكَةِ فَقَالَ أَنْبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَٰؤُلَاءِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ)

Dan Dia (Allah) mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!” (Al-Baqarah : 31).

(وَعَلَّمَ آدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا)

Yang dimaksud dengan al-asma’ adalah nama-nama Allah, yakni nama-nama yang telah kita ketahui, dimana dikatakan kita beriman dengan wujud-Nya. Nama-nama yang umumnya diungkapkan dengan kesucian, keberkahan, ketinggian, sebagaimana pengertian ini didasarkan pada pengertian ayat-ayat lain:

سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى

Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Maha Tingi, (Al-A’la: 1)

تَبَارَكَ اسْمُ رَبِّكَ ذِي الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ

Maha Agung nama Tuhanmu Yang Mempunyai Kebesaran dan Karunia. (Ar-Rahman: 78)

Al-Asma’ disini berarti nama-nama benda. Sengaja sengaja digunakan kata al-asma’ karena memiliki hubungan yang cukup kuat Antara nama yang ditetapkan dan yang dinamai, disamping cepat dipahami. Sebab bagaimanapun, ilmu yang hakiki itu ialah pemahaman terhadap pengetahuan. Kemudian mengenai Bahasa yang digunakan, tentunya berbeda-beda menurut Bahasa yang tunduk terhadap peraturan Bahasa itu sendiri.

Allah SWT telah mengajari nabi Adam berbagai nama makhluk yang telah diciptakan-Nya. Kemudian Allah memberinya ilham untuk mengetahui eksistensi nama-nama tersebut. Juga keistimewaan-keistimewaan, ciri-ciri khas dan istilah-istilah yang dipakai. Didalam memberikan ilmu ini, tidak ada bedanya diberikan sekaligus dengan diberikan secara bertahap. Hal ini karena Allah Maha Kuasa untuk berbuat segalanya. Sekalipun istilah yang digunakan yang digunakan dalam Al-Qur’an adalah ‘allama (pengertiannya adalah memberikan ilmu secara bertahap), seperti firman Allah:

وَعَلَّمَكَ مَا لَمْ تَكُنْ تَعْلَمُ

Dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui”, (An-Nisa’: 113)

Dan firman Allah:

وَيُعَلِّمُهُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَالتَّوْرَاةَ وَالْإِنْجِيلَ

Dan Allah mengajarkan kepadanya (Nabi Isa) Al Kitab, Hikmah, Taurat dan Injil”. (Ali Imran : 48)

Dan masih banyak ayat-ayat yang menggunakan kata-kata ‘allama. Tetapi secara rasional ayat tersebut menunjukan pengertian memberi ilmu sekaligus bukan bertahap.

(ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلَائِكَةِ)

Artinya, kemudian Adam mengajarkan kepada para malaikat beberapa nama tersebut secara ijmal dengan penyampaian berdasarkan ilham atau yang sesuai dengan kodisi malaikat. Atau Adam menampakkan nama-nama tersebut kepada mereka dengan menyebut contoh-contohnya saja. dengan mengetahui contoh-contoh tersebut, dapat diketahui perincian tiap-tiap nama, baik yang berhubungan dengan ciri-ciri khasnya atau wataknya.

Didalam pengajaran dan penuturan Adam kepada malaikat terkandung tujuan memuliakan Adam dan terpilihnya Adam sebagai khalifah. Dengan demikian para malaikat tidak lagi merasa tinggi diri. Sekaligus menunjukan bahwa ilmu Allah akan dianugrahkan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya.

(فَقَالَ أَنْبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَٰؤُلَاءِ)

Para malaikat diminta menyebutkan nama-nama tersebut, tetapi mereka tidak akan mungkin mampu mengatakannya. Dalam ayat ini terdapat petunjuk bahwa memegang tampuk kekhalifahan, mengatur kehidupannya, menetapkan peraturan-peraturannya dan menegakkan keadilan di dunia ini dibutuhkan pengetahuan khusus masalah kekhalifahan, disamping adanya bakat untuk terjun dibidang ini.

(إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ)

Artinya, apabila ada sesuatu hal yang membuat kalian heran tentang khalifah yang diserahkan kepada manusia, dan kalianpun mempunyai dugaan kuat yang disertai dengan bukti, maka silahkan kalian menyebut nama-nama yang Aku sebutkan dihadapan kalian.

Berdasarkan ayat tersebut kita mendapat suatu pelajaran bahwa seseorang yang menuduh orang lain harus dapat menunjukan bukti untuk memperkuat tuduhannya. Disini para malaikat bermaksud mengungkapkan rahasia-rahasia ghaib, tetapi ternyata dugaan mereka itumeleset.

Jadi, pengertian ayat tersebut seolah-olah mengatakan kepada para malaikat, “Kalian tidak mengetahui rahasia-rahasia apa yang kalian maksudkan. Jadi, bagaimana kalian berani mengatakan sesuatu yang belum kalian ketahui?”.

Kata ha’ula’i terkandung suatu makna bahwa ketika Nabi Adam menyebut nama-nama tersebut, adalah menyebut nama-nama benda yang dijangkau oleh alat indera, seperti burung-burung, margasatwa dan jenis-jenis hewan yang ada dihadapannya.

Comments
Loading...